Dosen Prodi Pendidikan Sejarah Lakukan PkM Bersama Komunitas Sarisejaya

Foto bersama peserta PkM

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan tema “Pelatihan Teknik Pelestarian Sejarah dan Budaya Lubuklinggau Pada Komunitas Sarisejaya” dilaksanakan pada tanggal 25 Oktober 2025 sebagai bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi dalam menjaga dan melestarikan warisan sejarah serta budaya lokal. Kegiatan ini melibatkan Komunitas Sarisejaya, sebuah komunitas masyarakat yang selama ini aktif dalam kegiatan sosial, seni, dan pelestarian lingkungan budaya di daerah setempat. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan masyarakat dalam melestarikan nilai-nilai sejarah serta budaya yang menjadi identitas daerah mereka.

Tahap awal kegiatan dimulai dengan koordinasi antara tim dosen pengabdi, mahasiswa, dan pengurus Komunitas Sarisejaya. Dalam pertemuan persiapan, disepakati bahwa pelatihan ini akan difokuskan pada dua aspek utama, yaitu pemahaman konseptual mengenai pelestarian sejarah dan budaya, serta pelatihan teknik dokumentasi dan konservasi sederhana. Berdasarkan hasil observasi awal, ditemukan bahwa banyak warisan sejarah dan budaya lokal yang belum terdokumentasikan dengan baik, bahkan sebagian mulai mengalami kerusakan akibat minimnya pengetahuan masyarakat tentang teknik pelestarian yang tepat.

Pelatihan yang dilaksanakan pada 25 Oktober 2025 bertempat di Laboratorium Sejarah Universitas PGRI Silampari, diikuti oleh 30 peserta yang terdiri atas anggota Komunitas Sarisejaya. Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Komunitas Sarisejaya (Kamil, S.Pd.) dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan tim dosen pengabdi (Isbandiyah, M.Pd.) Kegiatan diawali dengan sesi pertama mengenai konsep dasar pelestarian sejarah dan budaya lokal yang disampaikan oleh narasumber Dr. Supriyanto, M.Pd. Dalam sesi ini, narasumber dari bidang sejarah dan antropologi menjelaskan bahwa pelestarian bukan hanya menjaga benda-benda peninggalan masa lalu, tetapi juga melestarikan nilai, tradisi, dan pengetahuan lokal yang hidup di tengah masyarakat. Diskusi interaktif pun digelar agar peserta dapat berbagi pengalaman mengenai potensi budaya dan tantangan yang mereka hadapi dalam menjaga warisan tersebut.

Sesi berikutnya difokuskan pada pelatihan teknik dokumentasi sejarah dan budaya secara praktis. Peserta belajar melakukan pendokumentasian sejarah lisan melalui wawancara dengan tokoh masyarakat, pencatatan silsilah keluarga, serta penggunaan perangkat digital sederhana untuk merekam kegiatan budaya. Selain itu, peserta juga dikenalkan pada metode konservasi bahan budaya tradisional seperti kain, ukiran kayu, dan naskah kuno menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Antusiasme peserta sangat tinggi, terutama ketika mereka mencoba langsung teknik digitalisasi arsip budaya melalui ponsel dan laptop yang disediakan panitia.

Sebagai tindak lanjut, dibentuk Tim Pelestari Sejarah dan Budaya Sarisejaya, yang beranggotakan perwakilan komunitas dan pemuda setempat. Tim ini memiliki tugas untuk melanjutkan kegiatan pendataan, dokumentasi, serta pengembangan kegiatan budaya lokal secara berkelanjutan. Mereka juga berencana mengadakan pameran mini dan lokakarya budaya secara rutin setiap tiga bulan sekali.

Kegiatan pengabdian ini memberikan dampak positif yang nyata bagi masyarakat. Selain meningkatkan wawasan dan keterampilan pelestarian budaya, kegiatan ini juga menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas daerah serta memperkuat kerja sama antara perguruan tinggi dan masyarakat. Melalui pelatihan yang diselenggarakan pada 25 Oktober 2025 ini, Komunitas Sarisejaya diharapkan menjadi pelopor dalam menjaga, mendokumentasikan, dan menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah dan budaya lokal di tengah derasnya arus modernisasi.